Masukkan kata kunci pencarian pada kotak pencarian di atas, kemudian tekan Enter. Atau tekan Esc untuk keluar.

 

.:: COMING SOON ::.

 

Bikin “Nagih”, Facebook Harus Diatur Seperti Rokok

Kecanduan terhadap media sosial seperti Facebook menjadi masalah yang serius di sejumlah masyarakat. Tak jarang, hal tersebut sampai berdampak pada psikis seseorang, seperti depresi atau kecanduan. Alhasil, kegiatan tersebut bisa berujung pada kematian.

Menanggapi hal tersebut, CEO Salesforce, Marc Benioff mengatakan perlu ada regulasi khusus untuk mengatur media sosial. Regulasi tersebut harus diterapkan secara ketat, seperti halnya aturan di industri rokok. Alasannya, rokok dan media sosial sama sama bersifat nagih atau adiktif.

“Para perancang teknologi pasti membuatnya semakin nagih. Inilah perlunya bagi kita untuk melakukan pengendalian,” ujar Benioff, dikutip dari The Guardian, Senin (29/1/2018).

Salah seorang investor awal Facebook, Roger McNamee sependapat dengan Benioff. Dalam tulisan kolomnya di situs The Guardian pekan lalu, ia memperingatkan bahwa perusahaan media sosial seperti Facebook harus mengatasi kerugian yang ditimbulkan akibat ketagihan medsos dan kerugian yang dilakukan oleh pengguna Facebook yang berniat jahat.

“Semua platform internet membelokkan kritik dan membiarkan penggunanya dalam bahaya,” tulis McNamee di kolomnya.

Sebelumnya, Presiden pertama Facebook, Sean Parker juga menggambarkan bahwa praktik bisnis perusahaan media sosial persis seperti hacker yang memanfaatkan kerentanan psikologi manusia.

Angka kecanduan media sosial di AS memang mengalami kenaikan setiap tahunnya, sepeti dikutip dari BBC. Meski tidak disebutkan jumlah pastinya, seorang terapis kejiwaan di Houston, Texas mengatakan bahwa angka kecanduan media sosial naik hingga 20 persen pada 2016.

Isu ini bahkan sudah jadi bahasan utama di Silicon Valley beberapa bulan terakhir. Dalam pembahasan tersebut, ada sedikit ketakutan bahwa media sosial berpotensi merusak penggunanya secara psikologis.

Sebagai langkah awal, baru-baru ini Facebook mengumumkan bahwa pihaknya mulai mengubah sejumlah algoritma guna mengatasi masalah tersebut. Dengan memilih sejumlah publisher yang dipercaya, kemungkinan buruk yang timbul akibat media sosial bisa berkurang.

Sumber: